Pengertian Tentang Iman

Pengertian Tentang Iman – Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati, sedangkan menurut istilah iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Iman memiliki hakikat yang tidak dapat dipisahkan dari Islam karena apabila bertemu dalam satu tempat maka islam ditafsirkan dengan amalan-amalan lahiriah sedangkan iman ditapsirkan dengan keyakinan-keyakinan batin. Tetapi apabila dua istilah itu dipisahkan, maka yang yang ditafsiri dengan yang lain artinya Islam itu ditafsiri dengan keyakinan dan amal, sebagaimana halnya iman juga ditafsiri demikian. Keduanya adalah wajib, ridha Allah tidak dapat diperoleh dan siksa Allah tidak dapat dihindari kecuali dengan kepatuhan lahirian disertai batiniah jadi tidak sah pemisah antara keduanya.

Rukun iman diartikan sesuatu yang menjadi sendi tegaknya iman, yaitu iman kepada Allah: iman kepada Malaikat: iman kepada Kitab-kitab samawiyah; iman kepda para rasul; iman kepada hari kiamat; iman kepada Qada dan Qadar. Apabila kita sebagai umat islam tidak menjalankan rukun-rukun iman tersebut maka batallah iman kita.

Beriman Kepada Allah

Yaitu keyakinan yang sesungguhnya bahwa Allah adalah wahid, ahad (esa), fand (sendiri), shamad (temmpat bergantun), tidak mengambil shahibah (teman wanita atau istri) juga tidak memiliki walad (anak). Dialah yang berhak disembah, bukan yang lain dengan segala macam ibadah, termasuk beriman dengan segala apa yang Dia kabarkan dalam kitab suci-Nya atau apa yang diceritakan oleh rasul-Nya tentang asma dan sifat-sifat-Nya dan bahwasannya Dia tidak sama dengan Makhuk-nya dan bagi-Nya kesempurnaan mutlak dalm semua hal tersebut dengan menetapkan tanpa menyerupakan dan dengan menyucikanya tanpa menghilangkan maknanya.

Beriman Kepada Malaikat

Menurut istilah ia adalah salah satu jenis makhluk Allah yang ia ciptakan khusus untuk taat dan beribadah kepada-Nya serta mengerjakan semua tugas-tugas-Nya iman kepada malaikat maksudnya meyakini scara pasti bahwa Allah SWT mempunyai para malaikat yang diciptakan dari nur, tidak pernah mendurhakai apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mengerjakan setiap yang Allah titahkan kepada mereka. Mereka membawa risalah Allah SWT dan menunaikan tugas-tugas masing-masing di alam ini. Mereka juga bermacam-macam dan masing-masing mempunyai tugas-tugas khusus. Diantara mereka adalah.

1) Jibril atau Ar-Ruh Al-Amin : menyampaikan (membawa) wahyu Allah kepada Rasul-Nya.

2) Malaikat yang diserahi utusan hujan dan pembagiannya manurut kehendak Allah.

3) Malaikat yang diserahi terompet yaitu Israfil. Ia meniupkan sesuatu dengan perintah Allah SWT dengan 3 Kali tiupan faza (ketakutan), tiupan sha’aq (kematian) dan tiupan (kebangkitan).

4) Malaikat yang ditugasi mencabut ruh, yakni malaikat maut dan rekan-rekannya.

5) Para malaikat penjaga surga. Allah SWT mengabarkan mereka ketika menjelaskan perjalanan orang-orang bertakwa.

6) Para malaikat penjaga neraka jahanam, mereka itu adalah Zabaniah. Para pemimpinnya ada 19 dan pemukanya adalah malik.

7) Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seseorang hamba, amal yang baik maupun buruk. Mereka adalah Mu’aqqibat.

8) Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seorang hamba, amal yang baik maupun buruk. Mereka adalah Alkiram, Alkatibun dan mereka masuk golongan hafadzah (para penjaga).

Allah SWT mewakitkan kepada malaikat urusan semua makhluk termasuk urusan manusia semenjak ia berupa sperma. Hubungan ini disebutkan Imam Ibnu Qayyim dalam kitab “Ighatsatul Lahfan” beliau berkata, “… mereka diserahi urusan penciptaan manusia dari satu fase ke fase yang lain, pembentukannya, penjagaannya dalam 3 lapisan kegelapan, penulisan rizki, amal, ajal, nasib celaka dan bahagianya, menyertainya dalam segala ihwalnya, perhitungan ucapan dan perbuatanya, penjagaannya dalam hidupnya. Pembawaan ruhnya ketika untuk diperlihatkan kepada penciptanya.

Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

Maksudnya yaitu membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hambanya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas. Dan bahwasannya ia adalah kalam Allah yang ia firmankan dengan sebenarnya, seperti apa yang ia kehendaki dan menurut apa yang ia inginkan.

Kewajiban beriman kepada kitab-kitab Allah berarti kita wajib beriman kepadanya secara umum, wajib beriman kepada kitab-kitab secara rinci, beriman pada kitab-kitab yang ada pada ahli kitab dan yang terakhir adalah kita wajib beriman pada Al-Qur’anul karim.
Al Qur’an menurut bahasa adalah bentuk masdar seperti al qira’ah anda mengungkapkan
Diantara penggunaannya adalah Qur’anahu maksudnya adalah qira’atahu kemudian masdar ini dinukil dan dijadikan sebagai nama atau sebutan bagi kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw dan menjadi nama yang baku baginya. Disebut Al qur’an karena ia mencakup inti (buah), kitab. Allah kesemuanya.

Sedangkan menurut istilah Al Qur’an itu adalah kalam Allah yang mujiz (yang melemahkan dan menundukan orang-orang yang menentangnya) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw dalam bentuk wahyu, yang ditulis di dalam mushaf dan di hafal di dalam dada yang dibaca dengan lisan dan didengar oleh telinga yan dinukil kepada kita secara mutawatir, tanpa ada keraguan dan membacanya dinilai ibadah.

Iman kepada segenap apa yang dipaparkan dalam Al Qur’an adalah wajib sebagaimana wajibnya mengimani bahwa ia adalah kitab yang paling diturunkan dari sisi Allah, yang datang untuk membenarkan dan mendukung kebenaran yang telah datang dalam kitab-kitab Allah terdahulu, juga untuk menjelaskan pengubahan dan pemalsuan yang terjadi padanya. Al-Qur’an datang dengan syari’atnya yang universal, umumberlaku untuk setiap zaman dan tempat, menghapus syari’at-syari’at sebelumnya dan wajib diikuti oleh setiap orang yang mendengar kabarnya sampai hari kiamat. Allah tidak menerima agama dari siapapun selainnya setelah ia turunkan.

Beriman Kepada Para Rasul
Menurut bahasa nabi berarti yang memberitahukan dari Allah dan ia diberi kabar dari sisinya, atau makhluknya yang termulia dan tertinggi derajatnya atau kedudukannya sedangkan menurut istilah, nabi ialah seorang laki-laki yang diberi kabar (wahyu) oleh Allah berupa syari’at yang dahulu, ia mengajarkan kepada orang-orang disekitarnya dari umatnya.

Adapun rasul secara bahasa ialah orang-orang yang mengikuti berita-berita orang yang mengutusnya, sedangkan menurut istilah rasul adalah seorang laki-laki merdeka yang diberi wahyu oleh Allah SWT dengan membawa syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umatnya, baik orang yang tidak ia kenal maupun yang memusuhinya.

Antara nabi dan rasul terdapat perbedaan, yaitu :
a. Kebenaran (nubuwiah) adalah syari’at kerasulan (risalah). Maka tidak bisa menjadi rasul yang orang yang bukan nabi kenabian lebih umum dari kerasulan. Setiap rasul pasti adalah nabi tetapi tidak setiap nabi adalah rasul.
b. Rasul membawa risalah kepada orang (kaum) yang ridak mengerti tentang agama dan syari’at Allah SWT atau kepada kaum yang telah mengubah syariat Allah. Dia adalah hakim bagi mereka sedangkan nabi diutus dengan dakwah kepda syariat nabi/dan rasul sebelumnya.

Beriman kepada segenap rasul artinya membenarkan dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah SWT mengutus seorang rasul pada setiap umat untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dan untuk kufur kepada sesembahan selain-Nya. Serta kepercayaan bahwa semua rasul adalah benar, mulia, luhur mendapat petunjuk serta menunjuki orang lain Mereka telah menyampaikan apa yang karenanya mereka ditutus oleh Allah, tanpa menyembunyikan atau mengubahnya.

Iman kepada mereka adalah wajib, siapa yang mengingkari seorang dari mereka mak ia telah kufur kepada semuanya, dan berarti telah kufur kepda tuhan yang mengutus mereka yaitu Allah.

Kita wajib beriman kepada mereka secara umum, nabi yang kita ketahui maupun yang tidak, maka begitu pula kita wajib mengimami secara khusus kepada para rasul yang disebutkan namanya oleh Allah. Telah disebutkan dalam Al Qur’an lebih dari 20 nama rasul yaitu : Nuh, Idris, Shalib, Ibrahim, Hud, Luth, Yunus, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusup, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Ilyasa, Dzlulkifli, Daud, Dakariya, Sluaiman, Ilyas, Yahya, Isa, dan Muhammad saw. Dengan meyakini bahwa Allah juga mempunyai rasul-rasul selain mereka.

Inti dari iman kepada mereka adalah taat, patuh dan tunduk kepada mereka dengan menngikuti perintahnya dan menjauhi larangannya dan mengarungi kehidupan ini berdasarkan manhaj mereka, karena mereka adalah para penyampai wahyu Allah dan mereka adalah suri tauladan bagi umatnya. Allah memelihara mereka dari kesalahan.
Rasul pertama samapai rasul terakhir semuanya menafikan hak-hak istimewa ketuhanan dari diri mereka. Semuanya menjelaskan bahwa mereka bukanlah malaikat, tidak mengetahui yang ghaib dan tidak memiliki pembendaharaan Allah. Akan tetapi mereka adalah manusia yang disitimewakan oleh Allah dengan menerima wahtu dan mencapai puncak derajat kemanusian yaitu ubudiyah (penghambaan) yang murni kepada Allah rabbul ‘Alamin.
Allah telah menyempurnakan agama Islam untuk kita, telah menyempurnakan nikmat bagi kita dan juga telah ridha Islam sebagai agama kita melalui tangan rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, penutup para nabi dan rasul. Muhammad saw beliau adalah rasul Allah untuk bangsa jin dan manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan ancaman yang menyeru kepada Allah dengan seizin-Nya dan sebagai lampu yang menerangi.

Maka setiap orang yang mengetahui kerasulannya, tetapi tidak mengimaninya ia berhak menerima siksa Allah seperti orang-orang kafir lainnya. Allah telah menjadikannya sebagai penutup para nabi tidak ada yang halal kecuali yang sudah dihalalkannya, dan tidak adah yang haram melainkan yang sudah diharamkannya, serta tidak ada agama kecuali apa yang telah disyariatkan. Beliau adalah utusan Allah kepada makhluk semuanya. Allah berfirma, memerintah rasul-Nya untuk menyampaikannya.

“Katakanlah, Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semuanya…” (Al-A’raf :68)
Rasulullah saw bersabda sebagaimana dalam hadits

HR. Muslim

Jadi syahadah atau persaksian atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad adalah rukun pertama dari rukun Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya.

Beriman Kepada Hari Akhir

Beriman kepada hari akhir artinya ialah meyakini dengan pasti kebenaran setiap hal yang diberitakan oleh Allah SWT dalam kitab suciNya dan setiap hal yang diberitakan oleh rasulNya saw mulai dari apa yang akan sesudah mati, fitnah kubur, adzab dan nikmat kubur dan apa yang terjadi sesudah itu seperti kebangkitan dari kubur, mahsyar, shuhuf, hisab, mizan, haudh, shirath, syafa’ah, surga dan neraka serta apa-apa yang dijanjikan Allah SWT bagi para penghuniNya.

Kiamat adalah tibanya saat yang disebut dalam firman Allah semisal “dan pada hari terjadinya kiamat” (Ghafir :46 dan Al-Jatsiyah : 27).

Kiamat disebutkan dalam Al Qur’an dengan beberapa nama, antara lain: Al – Qariah, Al-Ghasyiyah, Ath-Thammah, Al-Wadi’ah, Al-Haqqah, Ash-shakhkhah, Yaumul-Hisab dan Yaumud Dien.

Sekalipun ada kepastian akan terjadinya dan kewajiban mengimaninya, tetapi Allah merahasiahkan kapan kiamat terjadi dan tidak seorangpun mengetahui waktunya akan tetapi Allah memberitahukan tanda-tandanya yang menunjukan dekatnya kejadian kiamat.

Tanda-tanda itu adalah ada dua :alama (tanda) shughra menunjukan dekatnya kiamat, sedangkan alamat kubra menujukan bahwa ia sudah diambang pintu. Diantara tanda-tanda shughra (kecil) yaitu :
1) Malaikat jibril ketika bertanya kapan tejadinya hari kiamat.
2) Berperangnya orang muslim melawan orang yahudi dan kemenangan orang-orang muslim atas mereka.

Tanda-tanda Shughra (kecil) yang diberitakan oleh Rasulullah saw sangat panjang pembahasannya berikut dalil-dalilnya, seperti pendek waktu, berkurangnya amal, munculnya berbagai fitnah, banyaknya pembunuhan, pelacuran, kefasikan dan lain-lain.

Adapun tanda-tanda kiamat kubra (besar) yaitu :
1) Keluarnya Dajjal Rasulullah saw menyebutkan sebagai fitnah terbesar yang terjadi semenjak penciptaan nabi Adam as hingga hari kiamat.

2) Terutam Nabi Isa as di atas menara putih disebelah timur Damaskus, kemudian beliau membunuh Dajjal dan mengajak kepada Islam serta memberlakukan hukum Islam, menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapuskan Jizah (pajak, bea cukai).

3) Munculnya matahari dari barat. Ini adalah petanda sangat dekatnya hari kiamat dan permulaan kacaunya hukum alam yang normal, karena dahsyatnya pengaruh pertanda ini dan telah putusnya harapan sehingga ketika orang-orang melihat tanda seperti ini mereka kemudian beriman tetapi imannya tidak ada artinya lagi atau tidak diterima karena sebelumnya mereka tidak mau beriman.

Dan masih banyak lagi tanda-tanda lain seperti munculnya Al-Mahdi, Dabbah, asap dan api di Hijaz dsb.

Beriman kepada Qadha dan Qadar

Qadha menurut bahasa memiliki beberapa makna yang berbeda, menurut perbedaan struktur kalimatnya, diantaranya berarti :
a. Hukum
b. Perintah
c. Kabar
Sedangkan yang dimaksud di sini ialah arti yang pertama
Adapun Qadar ialah takdir, yaitu menentukan atau membatasi ukuran segala sesuatu sebelum terjadinya dan menulisnya di lauhul Mahfuzh

Beriman kepada Qadha dan Qadar Allah memiliki makna membenarkan dengan sesungguhnya bahwa yang terjadi baik dan buruk itu adalah atas Qadha dan Qadar Allah.

Iman kepada takdir memiliki empat tingkat :

1) Iman kepada ilmu Allah yang merupakan sifat Allah sejak azali.
2) Mengimami bahwasannya Allah SWT menulis dan mencatat takdir makhluknya di lauhul Mahfuzh.
3) Iman kepada Masyi’ah (kehendak) Allah dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh.
4) Mengimami bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, tidak ada khaliq selainNya dan tidak ada Rabb (Tuhan) selainNya.

Takdir ada 4 macam, semuanya termasuk kandungan dari tulisan takdir umum dan semuanya kembali kepada ilmu Allah yang mutlak serta mencakup segala sesuatu.

1) Takdir umum (takdir azali)

2) Takdir umuri

3) Takdir Sanawi (tahunan), yang dicatat pada malam Lailatul Qadar setiap tahun

4) Takdir yaumi (harian), dikhususkan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam suatu hari, mulai dari penciptaan rizki, menghidupkan, mematikan dan sangat memperhatikan.

Rasulullah yang bijak dan sangat memperhatikan umatnya dari masalah Qadha dan Qadar yang menyebabkan ketergelinciran yang membahayakan. Maka beliau melarang umatnya agar tidak memperbincangkan dan membahas terlalu dalam tentang Qadha dan Qadar. Karena hal itu akan mendorong untuk membanding-bandingkannya dengan hal-hal yang bisa diindra, yang diantaranya mengakibatkan terbentuknya Fikrah Maddiyah (pemikiran materialisme) yang berada di depan mata kita dan bisa mengantarkan manusia kepada perlawanan terhadap Allah Yang Maha Mengatur segalaNya dan akan menjerumuskan di ke dalam jurang kebingungan dan kesesatan.

Kesimpulan madzhab salaf tentang Qadha dan Qadar.

1) Beriman kepada rubibiyah Allah yang mutlak

2) Sesungguhnya seorang hamba mempunyai kemampuan kehendak dan ikhtiar dan jika semua itu tewujud maka akan diberi pahala atau siksa.

3) Sesungguhnya beriman kepada Qadha dan Qadar yang baik maupun yang buruk adalah berdasarkan penisbatannya kepada makhluk.

makalah pengaruh jepang yang masih terasa hingga kinipidato tema iman kepada malaikat allahcara mengatasi jerawat golongan darah abcontoh biantara sunda yang sesuai dengan sistematika yang benaryang dimaksud negara hukum klasikmakalah iman kepada malaikat pptcontoh pidato bahasa jawa krama alus tentang agamadaftar pustaka tentang malaikatkata kata mutiara buat seorang desersimakalah akhlak terhadap allah swt pdf
Pengertian Tentang Iman | nagrak.com | 4.5
error: Content is protected !!